Banjir Jakarta dan Maksiat Tahun Baru

Banjir Jakarta dan Maksiat Tahun Baru

Jakarta direndam banjir. Itulah fakta yang terjadi pada Kamis, 17 Januari 2013 lalu. Kawasan Bunderan HI, Jalan MH Thamrin, yang selama ini belum pernah terkena banjir parah, lumpuh total.

Peristiwa ini terjadi persis 17 hari setelah di tempat yang sama, pada malam tahun baru lalu digelar Jakarta Free Night, yang merupakan ide dari Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, dengan mendirikan 16 panggung di 16 titik sepanjang Thamrin-Sudirman dengan berbagai macam hiburan mulai dari gambus, gambang kromong, keroncong, campursari, dangdut hingga band pop. Masyarakat Jakarta yang larut dalam hura-hura perayan tahun baru ‘tumplek bleg’ di sana semua.

Sangat tepat jika Ketua Umum Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhammad Rizieq Syihab saat banjir melanda mengatakan, “Setelah Sudirman – Thamrin diisi FESTIVAL MAKSIAT oleh JOKOWI pada malam Tahun Baru, kini saatnya ALLAH SWT menyapu kotoran maksiatnya dengan BANJIR se-Jakarta. Ayo, JOKOWI mau beli musibah dengan maksiat apa lagi ??!!”

Hingga tulisan ini dimuat banjir Jakarta belum selesai. Korban meninggal sudah mencapai 20an orang. Kerugian belum terhitung. Ribuan masyarakat terpaksa diungsikan. Dan pemandangan yang unik adalah taktala orang-orang kaya dari etnis tertentu yang tinggal di kawasan elit Pluit, Jakarta Utara. Mereka juga terpaksa harus diungsikan dengan berbagai peralatan yang ada, meninggalkan rumah-rumah mewah dan mobil-mobil mewah mereka yang terendam banjir.

Secara teknis, banjir yang melanda Jakarta pada Januari 2013 ini berbeda dengan banjir pada Januari-Februari 2007 lalu. Curah hujan yang turun ternyata lebih kecil jika dibandingkan dengan data curah hujan harian saat terjadi banjir besar pada 2007. Namun dampaknya hampir setara. Luapan Sungai Ciliwung merendam kawasan di Jatinegara dan daerah lain yang dilintasinya. Ini persis sama seperti ketika banjir besar melanda Jakarta lima tahun lalu.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan curah hujan harian tertinggi di Jakarta pada Selasa dan Rabu pagi (15-16) hanya sekitar 100 milimeter. Angka itu jauh lebih rendah dibanding rekor curah hujan tertinggi dalam satu hari yang terjadi pada Januari 2007 yang mencapai 340 milimeter. Curah hujan sepanjang Januari ini yang diprediksi 300-400 mm juga dianggap masih normal.

Curah hujan di kawasan Puncak juga lebih rendah dibandingkan lima tahun lalu. Pada 2007 lalu, curah hujan selama sebulan di kawasan Puncak bahkan bisa mencapai 640 mm, dengan curah hujan maksimum harian adalah 136 mm.

Sementara sekarang, hujan sepanjang tiga hari lalu jauh lebih sedikit. “Senin sebesar 22,6 mm, Selasa 74,2 mm, dan Rabu 61,4 mm,” kata Kepala Stasiun Klimatologi Kelas 1 Darmaga Bogor, Nuryadi, Rabu 16 Januari 2013.

Ini membuktikan bahwa banjir di Jakarta adalah akibat debit Ciliwung meningkat drastis. Kenaikan debit Ciliwung ini terkait dengan rusaknya kawasan hulu sungai itu di Puncak.


Kepala Pusat Studi Bencana Institut Pertanian Bogor, Euis Sunarti, membenarkan. Menurutnya, meski curah hujan di kawasan hulu Ciliwung-Cisadane lebih kecil, dampak ke Jakarta lebih hebat karena daya serap air di kawasan Puncak, Bogor, sudah semakin lemah. Berdasarkan kajian dengan citra satelit, keseimbangan ekologis kawasan Puncak pada awal tahun ini merosot hingga 50 persen dibanding pada 15 tahun sebelumnya.


Pada saat yang sama, sungai-sungai di Jakarta semakin kehilangan kemampuan mengalirkan air hingga 70 persen karena penyempitan dan pendangkalan. Kondisi ini dan yang terjadi di Puncak bermuara pada banjir di Jakarta yang semakin parah.

Pertanyaannya, apakah musibah banjir itu hanya akibat faktor-faktor alam di atas?. Ataukah ada hal non teknis lain yang turut andil bagian?. Padahal, berkaca pada musibah gempa yang pernah terjadi pada masyarakat Islam Madinah saat dipimpin Khalifah Umar bin Khatab, beliau langsung menginstruksikan masyarakat aar menjauhi maksiat dan bertaubat kepada Allah SWT. Saat itu Khalifah Umar mengatakan, “Wahai bumi adakah aku berbuat tidak adil?” lalu berkata lantang, “Wahai penduduk Madinah, adakah kalian berbuat maksiat? Tinggalkan perbuatan itu, atau aku akan meninggalkan kalian!”.

Nah, sekarang, apakah Presiden SBY atau Gubernur Jakarta Jokowi melakukan apa yang telah dilakukan Umar?. Nyatanya tidak.

MAKSIAT SEBAB BENCANA

Untuk mengetahui adakah hubungan antara bencana, apakah gempa bumi, banjir, tsunami, kelaparan, krisis pangan, kemarau berkepanjangan, tenggelamnya kapal, jatuhnya pesawat, dan sebagainya, saya ingin mengetengahkan kepada pembaca dua ayat dallam Al-Qur’an yang difirmankan Allah SWT dalam dua surat yang berbeda. Surat Ar-Ruum ayat 41 dan surat As-Syuura ayat 30.

Allah SWT berfirman dalam QS Ar-Ruum: 41, “Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”

Untuk memahami ayat itu, Ustadz Muhammad Ali Ash-Shabuni dalam kitab tafsirnya, Shafwatut Tafasir, menjelaskan sebagai berikut:

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, tampaklah musibah dan petaka di darat dan lautan karena perbuatan maksiat dan dosa umat manusia. Al-Baidhawi berkata: Yang dimaksudkan kerusakan adalah paceklik, banyak kebakaran, tenggelam, sirnanya berkah dan banyaknya kerugian karena maksiat manusia. Ibnu Katsir berkata, jelaslah bahwa kerusakan pada tanaman dan buah-buahan adalah akibat kemaksiatan manusia, sebab baiknya bumi dan langit adalah berkat ketaatan.

Supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, hal itu agar Allah membuat mereka merasakan sebagian akibat dari perbuatan mereka di dunia sebelum menghukum mereka semuanya dengan hal itu di akhirat. agar mereka kembali (ke jalan yang benar), agar mereka bertaubat dan meninggalkan maksiat serta dosa yang ada pada mereka.

Sedangkan dalam QS Asy-Syuura ayat 30, Allah SWT berfirman: “Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).

Terhadap ayat ini, Ash-Shabuni menjelaskan: Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, apa yang menimpa kalian wahai umat manusia berupa musibah jiwa atau harta adalah karena maksiat yang kalian lakukan. Imam Jalalain berkata, Allah menyebutkan ‘tangan’ sebab kebanyakan perbuatan dilakukan oleh tangan.

dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu). Maksudanya adalah Allah memaafkan sebagian besar dosa, sehingga tidak menyiksa mereka karena dosa-dosa itu. Seandainya Allah menyiksa kalian karena apa yang kalian lakukan, tentu kalian binasa. Dalam hadits disebutkan, “Anak Adam tidak tertimpa cakaran kayu atau terpelesetnya telapak kaki maupun bergetarnya otot, kecuali karena dosa. Dan apa yang dimaafkan Allah Adalah lebih banyak.” (Ibn Katsir menyatakan hadits ini diriwayatkan oleh Ibnu Abu Hatim dari Hasan sebagai hadits mursal).

Dari dua ayat ini secara jelas dan gamblang dapat dipahami bahwa terjadinya musibah adalah karena kemaksiatan yang dilakukan oleh umat manusia.

PEMAHAMAN SAHABAT NABI TERHADAP MUSIBAH

Lantas, bagaimana pemahaman sahabat terhadap bencana?. Apakah mereka juga memahami bencana sebagai buah dari kemaksiatan atau seperti yang banyak dipahami kebanyakan orang pada zaman sekarang bahwa bencana hanyalah fenomena alam?.


Umar bin Khattab sebagaimana yang disebutkan di awal, jelas menyatakan bahwa bencana (gempa) adalah akibat kemaksiatan yang dilakukan penduduk Madinah. Sahabat Ka’ab bin Malik mempunyai pendapat yang mirip dengan Umar bin Khattab. “Tidaklah bumi bergoncang kecuali karena ada maksiat-maksiat yang dilakukan di atasnya. Bumi gemetar karena takut Rab-nya azza wajalla melihatnya”, kata Kaab.


Ka’ab menyebut bahwa goncangan bumi adalah bentuk gemetarannya bumi karena takut kepada Allah yang Maha Melihat kemaksiatan dilakukan di atas bumi-Nya.


Bagaimana dengan pendapat Ummul Mukminin Aisyah ra?.

Suatu saat Anas bin Malik bersama seseorang lainnya mendatangi Aisyah. Orang yangbersama Anas itu bertanya kepada Aisyah: Wahai Ummul Mukminin jelaskan kepadaku tentang gempa. Aisyah menjelaskan, “Jika mereka telah menghalalkan zina, meminum khamar dan memainkan musik. Allah azza wajalla murka di langit-Nya dan berfirman kepada bumi: “goncanglah mereka. Jika mereka taubat dan meninggalkan (dosa), atau jika tidak, Dia akan menghancurkan mereka.

Orang itu bertanya kembali: Wahai Ummul Mukminin, apakah itu adzab bagi mereka?. Aisyah menjawab, “Nasehat dan rahmat bagi mukminin. Adzab dan kemurkaan bagi kafirin.” Anas berkata: Tidak ada perkataan setelah perkataan Rasul yang paling mendatangkan kegembiraan bagiku melainkan perkataan ini.

Sangat jelas penjelasan Ummul Mukminin Aisyah tentang penyebab terjadinya gempa. Tiga kemaksiatan yang semuanya marak pada saat ini. Khusus untuk dosa yang pertama, Aisyah menggunakan kata istabahu yang artinya masyarakat telah menganggap zina itu mubah [lazim]. Zina tidak hanya dilakukan, tetapi telah dianggap mubah. Dari ucapan, tindakan, kebijakan sebuah masyarakat boleh dibaca bahwa mereka yang telah meremehkan dosa zina, memang layak dihukum dengan gempa.


Soal khamar (minuman keras), di negeri ini minuman haram, najis dan perbuatan syetan itu malah dilegalisasi dengan Keppres No. 3/1997. Akibatnya, minuman keras dengan kadar alkohol dibawah 5% kini bebas beredar di swalayan-swalayan kecil di pinggir jalan seperti di Alfamaret dan Indomaret. Anehnya, beberapa daerah yang memberlakukan Perda Anti Miras yang melarang peredaran Miras secara keseluruhan malah dianggap bertentangan dengan Keppres tersebut dan diminta oleh Kemendagri agar dicabut.

Soal musik. Industri musik di tanah air terus menggurita. Bukan hanya dari dalam negeri, musik-musik luar negeri juga membanjiri masyarakat. Konser-konser diselenggarakan. Pada malam tahun baru lalu, sepanjang Sudirman-Thamrin jua dijejali dengan pertunjukan-pertunjukan musik. Aroma kemaksiatan menyebar di sepanjang jalan itu.

Ya, inilah semua kemaksiatan yang terjadi di negeri ini sebagaimana dikatakan ummul mukminin Aisyah ra. Belum lagi kemaksiatan yang lebih besar dari itu. Riba yang dilakukan oleh negara karena membayar cicilan bunga utang dalam jumlah ratusan triliyun, korupsi para penyelenggara negara hingga rencana menaikkan harga BBM dan Tarif Dasar Listrik.

Semua itu adalah bentuk kemaksiatan dan kezhaliman yang dilakukan oleh pemerintah yang mampu mengundang bencana. Pantaslah kalau Allah SWT terus menerus memberikan musibah kepada bangsa ini.

Karena ternyata satu musibah saja tidak cukup membuat bangsa ini sadar dan bertaubat kepada-Nya. Selama kemaksiatan terus merajalela di permukaan bumi Indonesia, selama itu pula negeri ini akan terus dirundung musibah. Maka segeralah bertaubat.

APA YANG HARUS DILAKUKAN?

Imam Ibnul Qoyyim dalam kitab Al-Jawab Al-Kafy mengungkapkan, “Dan terkadang Allah menggetarkan bumi dengan guncangan yang dahsyat, menimbulkan rasa takut, khusyuk, rasa ingin kembali dan tunduk kepada Allah, serta meninggalkan kemaksiatan dan penyesalan atas kekeliruan manusia. Di kalangan Salaf, jika terjadi gempa bumi mereka berkata, ‘Sesungguhnya Tuhan sedang menegur kalian’.”

Khalifah Umar bin Abdul Aziz tak tinggal diam saat terjadi gempa bumi pada masa kepemimpinannya. Ia segera mengirim surat kepada seluruh wali negeri. Inilah isi surat Khalifah Umar bin Abdul Azis setelah terjadi bencana: Amma ba’du, sesungguhnya gempa ini adalah teguran Allah kepada hamba-hamba-Nya, dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu, maka barangsiapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengannya.”

“Allah berfirman, ‘Sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan tobat ataupun zakat). Lalu, dia mengingat nama Tuhannya, lalu ia sembahyang.” (QS Al-A’laa [87]: 14-15). Lalu katakanlah apa yang diucapkan Adam AS (saat terusir dari surga), ‘Ya Rabb kami, sesungguhnya kami menzalimi diri kami dan jika Engkau tak jua ampuni dan menyayangi kami, niscaya kami menjadi orang-orang yang merugi.”

“Dan katakan (pula) apa yang dikatakan Nuh AS, ‘Jika Engkau tak mengampuniku dan merahmatiku, aku sungguh orang yang merugi’. Dan katakanlah doa Yunus AS, ‘La ilaha illa anta, Subhanaka, Tiada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim’.”

Jika saja kedua Umar (Umar bin Khattab dan Umar bin Abdul Azis) saat ini bersama kita, mereka tentu akan marah dan menegur dengan keras, karena rentetan “peringatan” Allah itu tidak kita hiraukan bahkan cenderung diabaikan. Maka, sebelum Allah menegur kita lebih keras lagi, inilah saatnya kita menjawab peringatannya-Nya. Labbaika Ya Allah, kami kembali kepada-Mu.

Maka, sangatlah tepat, jika dalam suasana banjir seperti sekarang, Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, misalnya berpidato, “Wahai warga DKI Jakarta, bencana banjir ini adalah musibah dari Allah SWT, kita wajib bersabar. 


Mari-bersama-sama kita bertaubat kepada Allah atas kemaksiatan yang telah kita lakukan dan secara bersama-sama saya akan memerangi semua bentuk kemaksiatan. Kepada saudara-saudara kita yang tertimpa musibah, selain dari anggaran dana pemerintah mari kita bahu membahu membantunya. Hal-hal teknis, seperti pembangunan waduk, pengerukan sungai, penambahan lahan serapan, dan upaya pencegahan banjir lainnya akan segera dilakukan pemerintah.” Wallahu a’lam.

Shodiq Ramadhan
Redaktur Suara Islam Online

sumber : http://kabarnet.wordpress.com/2013/01/22/banjir-jakarta-dan-maksiat-tahun-baru/, akses tgl 10/02/2013.

Share this article :